“Some people deserve for love, some people don’t!”
Mengutip
sebuah kata-kata kritis yang pernah kubaca, “Buddha tidak memeluk agama Budha.
Yesus tidak memeluk agama Katholik. Agama yang mereka peluk adalah cinta.” Bisa
dikatakan cinta adalah awal dari segalanya, contohnya adalah agama. Aku kira
semua agama basisnya adalah cinta, walau cinta sendiri tidak sesempit hubungan
sejoli saja.
Seperti agama
yang percaya akan Tuhan (cinta), ada yang berpegang teguh dan ada orang yang
tidak memeluknya sama sekali. Ada monotheism,
polytheism, atheism bahkan agnotheism. Berbicara mengenai cinta sejoli aku
adalah seorang agnostik. Mungkin cinta itu ada, tetapi aku tidak memeluknya,
bahkan tidak peduli lagi.
“People don’t change one day, they just reveal real them.”
Kehidupanlah
yang membuka tabir akan cinta. Kita tidak pernah tahu kapan datangnya cinta itu.
Hanya kehidupanlah yang akan mempertemukan kita dengannya. Berkata percaya,
tidak percaya atau tidak peduli lagi bukan berarti orang itu berubah.
Keehidupanlah yang menunjukkan mereka untuk percaya atau sebaliknya.
Aku
bertemu dengan cinta ketika aku sudah bersama dengan orang lain. Bukan berarti
aku tidak mencintai partner pertamaku. Tetapi aku bertemu dengan cinta
sesungguhnya darinya yang datang setelah aku bersama dengan orang lain.
Cukuplah
cinta untuk cinta. Itulah yang bisa kugambarkan mengenai perasaan yang aku
alami waktu itu. Tidak ada pretensi atau ekspektasi walau banyak drama yang
kami lakukan. Tetapi drama itu sendiri malah membuka pandanganku lebih luas
akan cinta. Sampai akhirnya dia harus pindah ke luar kota dan kami pun semakin
jauh.
Aku
mencoba untuk melupakannya. Banyak cara, tinggal bersama dengan partnerku
selama kurang lebih 4 tahun. Menjalin hubungan lainnya, terhitung sudah dua
orang yang pernah dekat denganku. Hal yang sia-sia belaka. Pada akhirnya aku
jatuh kembali ke dalam pelukannya melalui tulisan, ingatan atau mimpi. Bersama
dengan yang lain hanya semakin membuatku berangan-angan seandainya aku bisa
bersamanya. Seperti itu, seindah itu.
Tidak
ada yang seperti cintanya…
Maka
sebut saja aku pecundang, bodoh, dungu, pembohong atau pelacur sekalipun.
Itulah wajah yang selama ini aku tutupi dengan topengku.
Greet
me, bless me, the agnostic!
Seks?
Ada
yang berkata bahwa seks harus diawali dengan cinta. Ada pula yang berkata
biarlah seks itu mengalir ketika cinta lahir. Cinta dan seks adalah kesatuan.
Bagiku sebagai
seorang agnostik, aku memandangnya secara berbeda. Kehidupan menuntunku berjalan ke arah yang berbeda.
Seks adalah seks, upaya pemenuhan kebutuhan biologis. Sedangkan cinta adalah sesuatu
yang aku yakini ada, tetapi aku tidak peduli akannya. Tak mau memeluknya,
karena dia telah hilang walau bukan berarti tidak ada.
Aku adalah
orang yang hilang yang mereka sebut sebagai jalang.
Mungkin memang
seperti itu. Membarakan sisi-sisi kebinatangan, dan meredam sisi kemanusiaan.
Untuk mereka
yang datang ke kehidupanku akhir-akhir ini. Tentu seharusnya mereka tahu
bagaimana aku memandang mereka. Dan seharusnya mereka pun membuka mata,
melihatku bukan sebagai topeng, tetapi sebagai aku, agnostik (jalang).
No comments:
Post a Comment